BERITA #KONVENSI CALON PRESIDEN PARTAI DEMOKRAT

Marzuki Alie: "Konvensi Rakyat Sulit Gandeng Parpol" 




JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie menilai pelaksanaan konvensi rakyat yang diusung sejumlah tokoh rohaniwan, budayawan, dan akademisi akan sulit bersaing dalam kontes Pemilu 2014.

Pasalnya, konvensi ini diperkirakan tidak akan mampu menarik minat parpol untuk memboyong calon presiden terkuat dari konvensi ini. "Tidak mudah bagi parpol berpikir ke sana," ujar Marzuki saat dihubungi Rabu (13/11/2013).

Partai politik, lanjut Marzuki, akan menjadi kendala berat bagi keberhasilan pelaksanaan konvensi rakyat. Menurut Marzuki, jangankan untuk menggandeng capres terkuat dari konvensi rakyat, melaksanakan konvensi sendiri pun parpol masih enggan.

"Jadi, masalah utama kita sekarang adalah parpol menjadi satu-satunya kendaraan untuk ke KPU," imbuh peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat ini.

Saat ditanyakan lebih lanjut, apakah konvensi rakyat ini bisa menenggelamkan konvensi serupa yang dilakukan Partai Demokrat, Marzuki tidak mau menjawabnya.

Seperti diberitakan, konvensi rakyat digelar oleh sejumlah tokoh masyarakat, rohaniwan, akademisi, dan budayawan. Konvensi tersebut dipimpin oleh Salahuddin Wahid alias Gus Sholah.

Menurut Gus Sholah, konvensi rakyat lebih dipercaya untuk memunculkan kader-kader terbaik bangsa. Nantinya, seluruh peserta diwajibkan mengikuti tahapan konvensi yang terdiri atas seleksi administratif dan debat publik.

Tahapan seleksi akan berlangsung 10 November-10 Desember 2013. Pada tahapan ini tidak ada batasan mengenai jumlah pendaftar. Selanjutnya, komite konvensi akan memilih enam peserta yang lolos seleksi akhir untuk mengikuti debat publik di enam kota besar.

Peserta konvensi rakyat yang ada di peringkat teratas akan diumumkan dan diusulkan ke parpol untuk diusung.


 

”Dengan meningkatnya produksi pangan, harga hasil pertanian tidak naik dan tidak sampai membebani masyarakat miskin lainnya, maka penghasilan petani akan meningkat dan pada akhirnya kesejahteraan petanipun semakin membaik.”

Hal itu dikatakan Endriartono Sutarto pada Tatap Muka dengan Petani Teladan dan Kelompok Tani se-Sumatera Selatan, awal Oktober. Menurutnya untuk memperbaiki keadaan petani, hasil produksinya harus ditingkatkan baik melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi. ”Misalnya hasil pertanian padi yang selama ini rata-rata 5-6 ton gabah kering panen/hektar dapat ditingkatkan menjadi 7-8 ton gabah kering panen/hektar,” tambahnya.

Berpihak pada Petani
Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) periode 2002-2006 itu punya banyak gagasan untuk meningkatkan produktivitas petani. ”Tentu banyak hal yang harus kita perhatikan dan lakukan, dengan bantuan pemerintah daerah,” tambahnya.
Diantaranya adalah dengan penyediaan lahan pertanian dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur yang masih sangat luas di banyak daerah, pembangunan infrastruktur pedesaan, bantuan akses permodalan, dan meningkatkan teknologi tepat guna bagi kebutuhan petani.
Selain itu, menurutnya pemerintah perlu banyak berpihak kepada petani yakni memberikan bantuan pengembangan bibit yang saat ini masih dimonopoli perusahaan-perusahaan besar, bantuan manajemen dan penyuluhan, menggali potensi lokal sebagai produk unggulan daerah, dan tidak kalah pentingnya adalah memotong mata rantai ”tengkulaiksme” yang sering merugikan petani.

Nilai Luhur
Selain melakukan upaya-upaya tersebut, tidak boleh dilupakan mengembangkan ”nilai-nilai” petani atau masyarakat yang tidak hanya berurusan secara ekonomi tetapi juga aspek sosial budaya. Seperti nilai-nilai gotong-royong, ulet, sabar, berkelanjutan, peka dampak lingkungan, kerukunan dan toleransi.
Untuk mengembangkan sikap kerukunan dan toleransi, karena akhir-akhir ini di berbagai daerah seringkali terjadi bentrokan antar warga, pemaksaan kehendak kelompok masyarakat tertentu kepada kelompok masyarakat lainnya dengan berbagai motif, Pembina Gerakan Indonesia Mengajar ini berpendapat karena negara ini negara hukum yang berdasarkan Pancasila, maka kita tidak boleh melakukan tindakan-tindakan anarkhis hanya karena ada perbedaan di antara kita.
”Dengan upaya yang sungguh-sungguh seperti saya sampaikan tadi, selain akan meningkatkan kesejahteraan petani dan sekaligus mengurangi masalah kemiskinan, kita juga akan mengurangi ketergantungan kebutuhan bahan pangan dari luar ngeri,” tambahnya.
Menurutnya ada peran penting petani yang kita rasakan setiap hari. Kita tidak mungkin hidup tanpa hasil garapan para petani. Kita butuh beras, sayur-mayur, daging, ikan, buah-buahan yang dihasilkan saudara-saudara kita para petani, untuk kita makan sehari-hari.

Keberpihakan Pemerintah
Karena itu Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia ini bangga bila mengingat jasa dan peran petani. Namun dia juga sangat prihatin karena kondisi kehidupan petani saat ini masih sangat memprihatinkan. Keberadaan petani semakin terpinggirkan dan semakin kehilangan akses atas sumberdaya seperti: tanah, air dan alat produksi lainnya yang merupakan sumberdaya penting bagi petani.
Dengan penghasilan kurang dari Rp. 300.000 per bulan, saudara-saudara kita yang bekerja di sektor pertanian masih tergolong kelompok miskin. Hal ini bisa kita lihat dari data bahwa lebih dari 60% penduduk miskin Indonesia berada di pedesaan yang berprofesi sebagai petani. ”Sungguh ironis, padahal Indonesia adalah negara agraris yang masih berbasis pada dunia pertanian sebagai sumber ekonomi nasional,” tambahnya.
Kalau keadaan ini terus berlanjut, tentu sangat kita sayangkan, karena Indonesia juga Sumatera Selatan memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan pertanian. ”Dengan potensi pertanian kita, saya yakin pertanian dapat berkembang dengan baik, apalagi mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari pemerintah,” tukas Endriartono Sutarto. ****
- See more at: http://endriartonosutarto.web.id/2013/10/29/jenderal-endriartono-sutarto-peduli-pada-petani-dan-produksi-pangan-2.html#sthash.FPClyLjs.dpuf

 

”Dengan meningkatnya produksi pangan, harga hasil pertanian tidak naik dan tidak sampai membebani masyarakat miskin lainnya, maka penghasilan petani akan meningkat dan pada akhirnya kesejahteraan petanipun semakin membaik.”

Hal itu dikatakan Endriartono Sutarto pada Tatap Muka dengan Petani Teladan dan Kelompok Tani se-Sumatera Selatan, awal Oktober. Menurutnya untuk memperbaiki keadaan petani, hasil produksinya harus ditingkatkan baik melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi. ”Misalnya hasil pertanian padi yang selama ini rata-rata 5-6 ton gabah kering panen/hektar dapat ditingkatkan menjadi 7-8 ton gabah kering panen/hektar,” tambahnya.

Berpihak pada Petani
Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) periode 2002-2006 itu punya banyak gagasan untuk meningkatkan produktivitas petani. ”Tentu banyak hal yang harus kita perhatikan dan lakukan, dengan bantuan pemerintah daerah,” tambahnya.
Diantaranya adalah dengan penyediaan lahan pertanian dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur yang masih sangat luas di banyak daerah, pembangunan infrastruktur pedesaan, bantuan akses permodalan, dan meningkatkan teknologi tepat guna bagi kebutuhan petani.
Selain itu, menurutnya pemerintah perlu banyak berpihak kepada petani yakni memberikan bantuan pengembangan bibit yang saat ini masih dimonopoli perusahaan-perusahaan besar, bantuan manajemen dan penyuluhan, menggali potensi lokal sebagai produk unggulan daerah, dan tidak kalah pentingnya adalah memotong mata rantai ”tengkulaiksme” yang sering merugikan petani.

Nilai Luhur
Selain melakukan upaya-upaya tersebut, tidak boleh dilupakan mengembangkan ”nilai-nilai” petani atau masyarakat yang tidak hanya berurusan secara ekonomi tetapi juga aspek sosial budaya. Seperti nilai-nilai gotong-royong, ulet, sabar, berkelanjutan, peka dampak lingkungan, kerukunan dan toleransi.
Untuk mengembangkan sikap kerukunan dan toleransi, karena akhir-akhir ini di berbagai daerah seringkali terjadi bentrokan antar warga, pemaksaan kehendak kelompok masyarakat tertentu kepada kelompok masyarakat lainnya dengan berbagai motif, Pembina Gerakan Indonesia Mengajar ini berpendapat karena negara ini negara hukum yang berdasarkan Pancasila, maka kita tidak boleh melakukan tindakan-tindakan anarkhis hanya karena ada perbedaan di antara kita.
”Dengan upaya yang sungguh-sungguh seperti saya sampaikan tadi, selain akan meningkatkan kesejahteraan petani dan sekaligus mengurangi masalah kemiskinan, kita juga akan mengurangi ketergantungan kebutuhan bahan pangan dari luar ngeri,” tambahnya.
Menurutnya ada peran penting petani yang kita rasakan setiap hari. Kita tidak mungkin hidup tanpa hasil garapan para petani. Kita butuh beras, sayur-mayur, daging, ikan, buah-buahan yang dihasilkan saudara-saudara kita para petani, untuk kita makan sehari-hari.

Keberpihakan Pemerintah
Karena itu Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia ini bangga bila mengingat jasa dan peran petani. Namun dia juga sangat prihatin karena kondisi kehidupan petani saat ini masih sangat memprihatinkan. Keberadaan petani semakin terpinggirkan dan semakin kehilangan akses atas sumberdaya seperti: tanah, air dan alat produksi lainnya yang merupakan sumberdaya penting bagi petani.
Dengan penghasilan kurang dari Rp. 300.000 per bulan, saudara-saudara kita yang bekerja di sektor pertanian masih tergolong kelompok miskin. Hal ini bisa kita lihat dari data bahwa lebih dari 60% penduduk miskin Indonesia berada di pedesaan yang berprofesi sebagai petani. ”Sungguh ironis, padahal Indonesia adalah negara agraris yang masih berbasis pada dunia pertanian sebagai sumber ekonomi nasional,” tambahnya.
Kalau keadaan ini terus berlanjut, tentu sangat kita sayangkan, karena Indonesia juga Sumatera Selatan memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan pertanian. ”Dengan potensi pertanian kita, saya yakin pertanian dapat berkembang dengan baik, apalagi mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari pemerintah,” tukas Endriartono Sutarto. ****
- See more at: http://endriartonosutarto.web.id/2013/10/29/jenderal-endriartono-sutarto-peduli-pada-petani-dan-produksi-pangan-2.html#sthash.FPClyLjs.dpuf
”Dengan meningkatnya produksi pangan, harga hasil pertanian tidak naik dan tidak sampai membebani masyarakat miskin lainnya, maka penghasilan petani akan meningkat dan pada akhirnya kesejahteraan petanipun semakin membaik.”

Hal itu dikatakan Endriartono Sutarto pada Tatap Muka dengan Petani Teladan dan Kelompok Tani se-Sumatera Selatan, awal Oktober. Menurutnya untuk memperbaiki keadaan petani, hasil produksinya harus ditingkatkan baik melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi. ”Misalnya hasil pertanian padi yang selama ini rata-rata 5-6 ton gabah kering panen/hektar dapat ditingkatkan menjadi 7-8 ton gabah kering panen/hektar,” tambahnya.

Berpihak pada Petani
Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) periode 2002-2006 itu punya banyak gagasan untuk meningkatkan produktivitas petani. ”Tentu banyak hal yang harus kita perhatikan dan lakukan, dengan bantuan pemerintah daerah,” tambahnya.
Diantaranya adalah dengan penyediaan lahan pertanian dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur yang masih sangat luas di banyak daerah, pembangunan infrastruktur pedesaan, bantuan akses permodalan, dan meningkatkan teknologi tepat guna bagi kebutuhan petani.
Selain itu, menurutnya pemerintah perlu banyak berpihak kepada petani yakni memberikan bantuan pengembangan bibit yang saat ini masih dimonopoli perusahaan-perusahaan besar, bantuan manajemen dan penyuluhan, menggali potensi lokal sebagai produk unggulan daerah, dan tidak kalah pentingnya adalah memotong mata rantai ”tengkulaiksme” yang sering merugikan petani.

Nilai Luhur
Selain melakukan upaya-upaya tersebut, tidak boleh dilupakan mengembangkan ”nilai-nilai” petani atau masyarakat yang tidak hanya berurusan secara ekonomi tetapi juga aspek sosial budaya. Seperti nilai-nilai gotong-royong, ulet, sabar, berkelanjutan, peka dampak lingkungan, kerukunan dan toleransi.
Untuk mengembangkan sikap kerukunan dan toleransi, karena akhir-akhir ini di berbagai daerah seringkali terjadi bentrokan antar warga, pemaksaan kehendak kelompok masyarakat tertentu kepada kelompok masyarakat lainnya dengan berbagai motif, Pembina Gerakan Indonesia Mengajar ini berpendapat karena negara ini negara hukum yang berdasarkan Pancasila, maka kita tidak boleh melakukan tindakan-tindakan anarkhis hanya karena ada perbedaan di antara kita.
”Dengan upaya yang sungguh-sungguh seperti saya sampaikan tadi, selain akan meningkatkan kesejahteraan petani dan sekaligus mengurangi masalah kemiskinan, kita juga akan mengurangi ketergantungan kebutuhan bahan pangan dari luar ngeri,” tambahnya.
Menurutnya ada peran penting petani yang kita rasakan setiap hari. Kita tidak mungkin hidup tanpa hasil garapan para petani. Kita butuh beras, sayur-mayur, daging, ikan, buah-buahan yang dihasilkan saudara-saudara kita para petani, untuk kita makan sehari-hari.

Keberpihakan Pemerintah
Karena itu Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia ini bangga bila mengingat jasa dan peran petani. Namun dia juga sangat prihatin karena kondisi kehidupan petani saat ini masih sangat memprihatinkan. Keberadaan petani semakin terpinggirkan dan semakin kehilangan akses atas sumberdaya seperti: tanah, air dan alat produksi lainnya yang merupakan sumberdaya penting bagi petani.
Dengan penghasilan kurang dari Rp. 300.000 per bulan, saudara-saudara kita yang bekerja di sektor pertanian masih tergolong kelompok miskin. Hal ini bisa kita lihat dari data bahwa lebih dari 60% penduduk miskin Indonesia berada di pedesaan yang berprofesi sebagai petani. ”Sungguh ironis, padahal Indonesia adalah negara agraris yang masih berbasis pada dunia pertanian sebagai sumber ekonomi nasional,” tambahnya.
Kalau keadaan ini terus berlanjut, tentu sangat kita sayangkan, karena Indonesia juga Sumatera Selatan memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan pertanian. ”Dengan potensi pertanian kita, saya yakin pertanian dapat berkembang dengan baik, apalagi mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari pemerintah,” tukas Endriartono Sutarto. ****
- See more at: http://endriartonosutarto.web.id/2013/10/29/jenderal-endriartono-sutarto-peduli-pada-petani-dan-produksi-pangan-2.html#sthash.FPClyLjs.dpuf

BERITA #KONVENSI CALON PRESIDEN PARTAI DEMOKRAT

Belum Ada Izin, Dahlan Iskan Tidak Berani Nyetir Mobil Listrik 

 


 


Jakarta -Menteri BUMN, Dahlan Iskan sudah memiliki mobil listrik pengganti Tuxuci. Tak tanggung-tanggung, 2 mobil listrik ia pesan dengan berbeda model. Satu model sport satunya lagi model MPV mewah.

Karena yang mengatur mobil listrik baru akan dilakukan oleh Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dan Permennya (peraturan menteri) akan dikeluarkan tahun ini, maka ia tidak berani menyetir mobil listriknya di jalanan umum.

"Bukan tidak berani, maksudnya nanti daripada diomongin, begitu. Jadi ramai lagi nanti kalau seperti dulu," ujarnya sambil tersipu malu.

Jadi, Dahlan memilih untuk menunggu keputusan dari Kemenristek. Daripada menjadi buah bibir masyarakat ia terpaksa menguncikan niatnya untuk mengendarai mobil listrik sementara.

"Saya nunggu keputusan dari Kemenristek. Permennya akan keluar tahun ini," timpal Dahlan.
"Kalau nyetir seperti dulu takut ramai lagi, jadi yaudalah saya menahan diri, sabar, memang ini hal baru, meskipun bapak Presiden mengatakan berkali-kali bahwa mobil listrik ini supaya di dorong dan dikembangkan tapi sekarang sudah semakin jelas dan berkembang," tandasnya.

BERITA #KONVENSI CALON PRESIDEN PARTAI DEMOKRAT

Gita Wirjawan Dukung Hacker Indonesia, Asal...

 


 

Liputan6.com, Jakarta : Serangan cyber yang dilancarkan hacktivist Indonesia kepada situs-situs Australia masih belum berakhir. Bombardir dari hacker yang tergabung dalam kelompok hacker Anonymous Indonesia itu diklaim untuk membela Indonesia sebagai negara yang berdaulat.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku cukup mengapresiasi kemampuan masyarakat Indonesia yang sudah bisa melakukan hacking. Ia juga mendukung segala tindakan yang membela harkat dan martabat negara melalui dunia cyber selama masih di sesuai dengan aturan yang berlaku.

"Saya mendukung semua tindakan pembelaan negara, tapi harus sesuai dengan aturan. Tapi kalau melanggar aturan saya tidak setuju apapun alasannya," ungkap Gita kepada tim Tekno Liputan6.com sewaktu berkunjung ke kantor redaksi Liputan6.com.

Menurut Gita, para hacker sebaiknya menggunakan kemampuannya untuk melindungi semua aset negara dan tindakan positif lainnya. "Akan lebih baik jika kemampuan mereka digunakan untuk melindungi negara dan aset yang kita miliki," tambah Gita.

Anonymous Indonesia sendiri tak bisa dianggap remeh. Kelompok hacker itu telah berhasil melumpuhkan lebih dari 170 situs asal Australia dalam waktu singkat. Situs resmi milik lembaga intelijen Australia dengan alamat asis.gov.au bahkan hingga kini masih belum pulih akibat bombardir dari Anonymous Indonesia sejak beberapa hari lalu.

Meskipun begitu, Gita mengaku sangat menyesalkan tindakan penyadapan ilegal yang dilakukan kepada Indonesia oleh lembaga intelijen Australia. Hal itu dinilai pria yang suka bermain piano itu sebagai perlakuan abai pada Indonesia sebagai negara berdaulat.

Ia meminta tindakan hacking terhadap Indonesia bisa ditindak tegas dan diproses melalui segala aturan dan sistem yang ada. Indonesia bukan satu-satunya negara yang menjadi sasaran pengintaian ilegal Australia, beberapa negara di Asia Tenggara disebutkan juga ikut menjadi korban tindakan tersebut. (den/dew)


 

BERITA #KONVENSI CALON PRESIDEN PARTAI DEMOKRAT

Hayono Isman: Pajak Alat Keadilan untuk Rakyat

 


 


VIVAnews - Salah satu peserta konvensi calon presiden (capres) Partai Demokrat, Hayono Isman, menyatakan pemanfaatan pajak negara harus berpihak kepada rakyat. Sebab, rakyat adalah penopang utama perpajakan dan keberlangsungan negara.

"Pajak adalah cara rakyat membayar tugas pengelolaan negara. Pajak adalah alat utama bagi keadilan sosial," kata Hayono, dalam seminar 'Capres Bicara Pajak Untuk Indonesia Yang Mandiri' di Kampus UIN, Ciputat, Rabu 13 November 2013.

Hayono menambahkan, melalui pajak dapat diwujudkan budaya gotong royong yang sekarang mulai terkikis habis oleh globalisasi, liberalisasi, atau pasar bebas. Gotong royong pada akhirnya akan memperkuat kesadaran pembayaran pajak.

"Bea masuk impor kedelai dihapus. Katanya agar perajin tempe terbantu. Tapi yang untung importir. Berbagai kebijakan pajak harus mengarah pada kemandirian ekonomi Indonesia," ujarnya.

Hayono menegaskan pajak membangun semangat gotong royong, tapi harus dipahami bukan sebagai sistem kapitalis atau komunis, tapi ciri budaya masyarakat Indonesia.

"Tidak selamanya kita mengalami pertumbuhan ekonomi. Sewaktu-waktu ekonomi kita bisa turun. Tapi, semangat gotong royong tidak boleh hilang," jelasnya.

Anggota Komisi I DPR itu lantas meminta masyarakat dan juga mahasiswa untuk mendorong Dirjen Pajak lebih kredibel dalam mengelola pajak dan menindak pengemplang pajak. Kalau itu bisa dilakukan, ia yakin penerimaan pajak akan naik.

"Dengan pajak, kita tidak hanya bisa menghadirkan negara maju tapi kokoh berdasarkan gotong royong," katanya.

Sebelumnya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD memuji semangat pengelolaan pajak yang dilakukan Direktorat Jenderal Pajak. Pelanggar pajak harus dihukum berat.

Menurutnya, saat ini Indonesia sedang dilanda badai korupsi yang tidak ada habis-habisnya. Dari analisanya, secara ilmiah rasional atau berdasar fakta hukum, ada empat sentra yang sangat potensial terjadi korupsi besar-besaran di negeri ini.

"Pertama, bidang pertanahan. Mafianya luar biasa. Kita punya sertifikat, tahu-tahu sudah dijual oleh pengembang. Ini permainan di DPR gila-gilaan. Contoh kasusnya ada di Jakarta, malah dia yang dibawa ke pengadilan karena dituduh memalsukan. Kedua, bea cukai. Ketiga, migas dan pertambangan. Dan keempat perpajakan," tuturnya. (adi)

 

BERITA #KONVENSI CALON PRESIDEN PARTAI DEMOKRAT

Jokowi Diwanti-wanti Waspadai Capres Hasil Konvensi Demokrat

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketenaran Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai kandidat terkuat dalam bursa calon presiden (capres) RI, ternyata masih bisa disalip oleh tokoh- tokoh politik lain.

Terutama, oleh capres yang nantinya dihasilkan dari Konvensi Partai Demokrat (PD). Agar tetap menjadi yang teratas, Jokowi disarankan tetap memanfaatkan Jakarta sebagai panggung politiknya.

"Saya ingatkan agar Jokowi berhati-hati dengan satu partai itu (PD). Manfaatkan habis-habisan panggung Jakarta untuk menjaga popularitas dan elektabilitasnya," ujar Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi School of Government (SSSG), Fadjroel Rachman, usai penyerahan Soegeng Sarjadi Award on Good Governance,  di Hotel Four Seasons, Jakarta Selatan.

Menurutnya, Jokowi harus memaksimalkan kinerja pemerintahannya di Jakarta hingga masa kampanye capres Pemilu Presiden 2014 nanti. Ia mengatakan, berbeda dengan calon yang diusung PD, Jokowi tidak punya waktu untuk menyiapkan program pemenangannya dan konsep yang akan diusungnya jika menjadi presiden.

Apalagi, lanjut Fadjroel, hingga kini, baik Jokowi atau pun partai yang mengusungnya, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan belum juga mengumumkan rencana pencalonan mantan Wali Kota Surakarta iru sebagai capres.

"Jokowi tidak punya banyak waktu, sedangkan capres (hasil) konvensi (PD) punya waktu sampai delapan bulan untuk merumuskan gagasannya," ujar Fadjroel.

Berdasarkan survei yang dilakukan SSSG, Jokowi dinilai sebagai tokoh negara terbaik. Jokowi memperoleh suara 55,2 persen dari 1.250 responden yang disurvei. Dia mengalahkan perolehan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang hanya memperoleh 11,4 persen suara.

"(Hasil survei) ini mengejutkan, karena tahun lalu Jokowi masih kalah oleh Dahlan Iskan (Menteri Negara BUMN). Tahun ini malah Jokowi mengungguli SBY," tutur Fadjroel.

Dia mengatakan, melesatnya keterpilihan Jokowi karena politisi itu menunjukkan kerja nyata melalui programnya di Jakarta.

 

BERITA #KONVENSI CALON PRESIDEN PARTAI DEMOKRAT

Gita Wirjawan: Kami Ingin Menjahit Kembali Komitmen Keindonesiaan

 



Liputan6.com, Jakarta : Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan didaulat menjadi Ketua Umum organisasi masyarakat DPP Barisan Indonesia (Barindo). Saat melantik kepengurusan DPP Barindo periode 2013-2018, Gita menjelaskan organisasinya itu berkomitmen menjadi jembatan kebangsaan menuju Indonesia gemilang.
Hal itu dapat diyakini lantaran, menurut Gita, refleksi dan reaktualisasi nilai-nilai kepahlawanan yang telah dikorbarkan para pejuang 68 tahun silam menjadi jiwa semangat bagi Barindo dalam membawa bangsa Indonesia memiliki daya juang yang pantang menyerah dan bermental baja.

"Latar belakang sosial bahkan afiliasi politik yang beragam di dalam tubuh Barindo merupakan modalitas yang luar biasa. Tidak hanya mencerminkan mozaik keindonesiaan namun kapasitas institusional dalam mengartikulasikan dan menjembatani kepentingan-kepentingan nasional yang menyentuh langsung denyut nadi kehidupan rakyat," kata Gita saat pengukuhan DPP Barindo periode 2013-2018 di Hotel Manhattan, Jakarta, Minggu (10/11/2013).

Menurut Gita, Etos kepahlawanan kita sebagai bangsa Indonesia akan terus diuji oleh tantangan-tantangan yang tidak kalah pelik bahkan lebih berbahaya dari ancaman-ancaman masa lampau. Ia mengutip Bung Karno yang mengatakan 'Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri'.

"Karena itu, kami ingin menjahit kembali komitmen keindonesiaan yang mulai rapuh karena kebangkitan gejala sektarianisme," tegas Gita yang juga merupakan peserta Konvensi Capres Partai Demokrat ini.

Menurut Gita, Indonesia gemilang akan sulit tercapai bila Indonesia tercerai-berai dan diurus secara tidak tepat. Karena itu menurutnya, Indonesia memerlukan kesinambungan kepemimpinan yang mampu membenahi sistem birokrasi dan pelayanan publik, tanggap dan berani membela keutuhan dan kepentingan nasional, serta mampu menjaga dan mengembangkan demokrasi untuk kepentingan rakyatnya.

"Sehingga bagi Barindo yang urgen bukan semata membicarakan kepentingan 2014 namun memastikan adanya perbaikan, regenerasi dan kesinambungan kepemimpinan bangsa yang mampu melayani dan membela kepentingan rakyat dalam setiap babak demokrasi kita," tegasnya.

"Premis dasarnya, siapa pun pemimpin bangsa ini hendaknya harus menjelmakan demokrasi dan pluralisme dalam wujud keadilan dan pemerataan kesejahteraan untuk semua," ujar Gita. (Yus)